BANTEN — Gelombang perampingan BUMN mulai memasuki tahap eksekusi di lantai bursa. Setelah PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menggabungkan dua anak usahanya di bidang logistik, giliran PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) yang melebur dua entitas instalasi telekomunikasinya. Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), merger ini membuat PT Persada Sokka Tama (PST) dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT) berakhir demi hukum tanpa melalui proses likuidasi.
Seluruh aset, liabilitas, serta hak dan kewajiban terhadap pihak ketiga dari kedua perusahaan tersebut kini beralih sepenuhnya ke MTEL sebagai entitas penerima penggabungan. Langkah ini diambil untuk menyederhanakan struktur kepemilikan dan mengurangi biaya operasional yang tumpang tindih.
Sebelum MTEL, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) lebih dulu merampingkan lini bisnis logistiknya. Dua anak usaha yang bergerak di bidang jasa kepelabuhanan, PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) dan PT Krakatau Jasa Samudera (KJS), resmi digabung. Dalam transaksi ini, KBS bertindak sebagai entitas yang menerima penggabungan.
Corporate Secretary Krakatau Steel, Rachman Hidayat, menjelaskan bahwa kedua perusahaan tersebut merupakan entitas yang secara tidak langsung dimiliki perseroan sebesar 99%. Menurutnya, merger ini merupakan strategi transformasi bisnis dan tidak akan mengganggu operasional, aspek hukum, maupun kondisi keuangan perusahaan.
Selain merger, KBS juga menerima pengalihan piutang dari PT Krakatau Jasa Logistik (KJL) senilai Rp51,77 miliar. Langkah ini dinilai sebagai upaya membersihkan neraca keuangan dan memperkuat posisi kas perusahaan.
Kepala BP BUMN Dony Oskaria menargetkan jumlah perusahaan anak, cucu, hingga cicit BUMN dapat dipangkas drastis dari sekitar 1.077 entitas menjadi hanya sekitar 250 perusahaan. Hingga April 2026, BP BUMN tercatat telah melikuidasi 167 perusahaan. Proses ini akan terus berlanjut untuk memenuhi target yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 pada Minggu (28/6), Prabowo menegaskan bahwa jumlah perusahaan dalam ekosistem BUMN harus dipangkas secara signifikan. "Saya minta dalam tahun ini harus selesai. Jadi dalam dua tahun kita akan bikin BUMN-BUMN lebih efisien, lebih transparan, lebih bekerja untuk rakyat," tegasnya.
Analis Panin Sekuritas Cabang Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai program transformasi ini merupakan langkah positif selama dijalankan secara disiplin dan berorientasi pada penciptaan nilai (value creation). Menurutnya, kebijakan streamlining berpotensi mengurangi duplikasi bisnis, meningkatkan efisiensi biaya, dan memperjelas fokus bisnis inti masing-masing BUMN.
"Pada akhirnya, struktur grup yang lebih sederhana juga lebih mudah dipahami investor sehingga berpotensi meningkatkan valuasi," ujar Elandry kepada Katadata, Kamis (2/7). Namun, ia mengingatkan bahwa pasar tidak hanya akan melihat jumlah perusahaan yang berhasil digabungkan, melainkan efektivitas implementasi pasca-merger.
Keberhasilan transformasi, kata Elandry, tidak diukur dari selesainya aksi korporasi semata, tetapi dari tercapainya sinergi, peningkatan profitabilitas, perbaikan arus kas, serta kontribusinya terhadap kinerja jangka panjang perusahaan. "Ini merupakan langkah awal yang baik, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada implementasi dan tata kelola pasca-merger," pungkasnya.