SERANG — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang memastikan tidak ada larangan bagi wisatawan untuk berlibur ke pesisir barat Banten. Wakil Bupati Serang Muhammad Najib Hamas secara resmi mengimbau masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa dan tidak terpancing isu bohong yang beredar.
"Kondisi Gunung Anak Krakatau melandai dan dinyatakan aman. Kami mengajak wisatawan, baik lokal maupun luar daerah, untuk tidak khawatir menghabiskan libur sekolah bersama keluarga di pesisir Serang," kata Najib dalam keterangannya, Senin.
Kekhawatiran wisatawan mengenai potensi bahaya letusan langsung terjawab dengan data teknis dari lapangan. Petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau (GAK) Deny Mardiono menjelaskan radius bahaya hanya berada dalam lingkaran tiga kilometer dari pusat erupsi.
"Sementara untuk Pantai Anyer, Cinangka, dan Carita itu jaraknya kurang lebih 42 kilometer. Jadi material vulkanik tidak akan sampai ke sana," ucap Deny.
Dengan jarak yang mencapai 14 kali lipat dari radius bahaya tersebut, aktivitas wisata pantai dinilai tidak memiliki risiko langsung dari guguran lava atau lontaran batu pijar.
Wabup Najib meluruskan bahwa video yang beredar di media sosial memperlihatkan Gunung Anak Krakatau dalam kondisi erupsi besar adalah hasil suntingan. Klarifikasi ini diperkuat setelah pihaknya meninjau langsung Pos Pengamatan GAK milik PVMBG di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka.
"Kami telah meninjau langsung Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau PVMBG di Desa Pasauran, bahwa video yang beredar tersebut tidak benar," paparnya.
Badan Geologi juga telah mengeluarkan surat resmi untuk membantah hoaks tersebut. Berdasarkan pantauan visual CCTV, saat ini hanya terlihat kepulan asap putih setinggi lima hingga 10 meter dari kawah.
Meski dinyatakan aman, PVMBG tetap memantau aktivitas GAK secara ketat. Deny menyebutkan tremor masih terekam, namun sebaran abu vulkanik sangat bergantung pada arah angin dan sejauh ini tidak mengarah ke kawasan wisata.
Pihak PVMBG memperbarui laporan aktivitas gunung setiap enam jam. Masyarakat dan pelaku pariwisata dapat mengakses informasi tersebut secara mandiri melalui aplikasi Magma Indonesia atau situs web resmi PVMBG.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap beraktivitas seperti biasa, tidak terpancing isu bohong, dan selalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah maupun BPBD agar informasi yang diterima benar dan akurat," ujar Deny.