LEBAK — Ancaman kekeringan di areal persawahan Kabupaten Lebak mulai diantisipasi pemerintah daerah. Pemkab melalui Dinas Pertanian mengerahkan pompa air di titik-titik yang dinilai rawan, terutama di sepanjang aliran sungai besar yang melintasi wilayah tersebut.
“Kita mengoptimalkan pompanisasi untuk mengatasi kekeringan sehingga tanaman padi bisa diselamatkan untuk menghasilkan produksi padi yang baik,” kata Pj Sekda Lebak Halson Nainggolan, Jumat (10/7/2026).
Pemkab memfokuskan pengoptimalan pompanisasi pada petani yang lahannya berada di dekat daerah aliran sungai (DAS). Kelima sungai yang dimanfaatkan antara lain Sungai Ciujung, Ciberang, Cisimeut, Cilangkahan, dan Cimadur.
Air permukaan dari sungai-sungai itu akan disedot menggunakan pompa untuk dialirkan ke lahan persawahan yang mulai mengering. Langkah ini dianggap paling efektif ketimbang mengandalkan irigasi teknis yang debit airnya menurun drastis saat kemarau.
Selain mengandalkan pompa, Dinas Pertanian juga mengoptimalkan peran kelompok tani (Poktan) dalam teknis pembagian dan pengaturan air irigasi. Para Poktan disebut telah memiliki ratusan unit pompa yang siap dioperasikan.
“Distan saat ini terus memantau sawah yang ada padinya. Sejauh ini, belum mendapat laporan adanya sawah yang kesulitan pasokan air akibat kemarau,” ujar Halson.
Keterlibatan Poktan dinilai krusial karena mereka yang paling memahami kondisi lapangan. Pembagian air secara bergilir dan pemeliharaan saluran irigasi tersier menjadi tugas utama mereka selama musim kemarau.
Hingga berita ini diturunkan, Distan Lebak memastikan belum menerima laporan adanya sawah yang puso atau gagal panen akibat kekeringan. Pemantauan rutin terus dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya dampak kemarau.
Pj Sekda menegaskan bahwa langkah preventif ini penting demi menjaga produksi padi daerah. “Kami mengoptimalkan pompanisasi pada petani. Saat ini para Poktan telah memiliki pompa hingga jumlahnya mencapai ratusan unit agar menyedot air dari daerah aliran sungai atau embung,” pungkasnya.