BANTEN — Pelemahan ini membuat rupiah kian menjauh dari level psikologis Rp18.000. Mata uang Garuda belum berhasil kembali ke kisaran Rp17.900. Sepanjang sesi perdagangan pagi, pergerakan rupiah tercatat dalam rentang Rp18.045,3 hingga Rp18.122,7 per dolar AS. Posisi pembukaan sama dengan penutupan sebelumnya, yakni di Rp18.035,6.
Pelemahan rupiah bukan fenomena sesaat. Dalam sepekan terakhir, dolar AS menguat 0,68 persen terhadap rupiah. Angka itu membengkak menjadi 1,36 persen dalam sebulan terakhir. Lebih mencengangkan lagi, dalam tiga bulan dolar AS tercatat perkasa 5,93 persen, dan dalam enam bulan mencapai 7,40 persen.
Secara tahunan, depresiasi rupiah tercatat sangat dalam. Data Wise.com menunjukkan dolar AS menguat 11,74 persen terhadap rupiah dalam setahun terakhir. Dalam periode 52 minggu, pasangan mata uang USD/IDR bergerak di rentang Rp16.085 hingga Rp18.197,5 per dolar AS.
Pasar kini mencermati apakah level Rp18.000 akan bertahan sebagai support psikologis. Jika tekanan berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah menguji level tertinggi dalam setahun di Rp18.197,5. Para pelaku pasar dan investor perlu mencermati pergerakan indeks dolar AS serta kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia pekan ini.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS dan data ketenagakerjaan yang solid menjadi katalis utama penguatan dolar global. Rupiah, bersama mata uang emerging market lainnya, menjadi pihak yang paling terpukul dalam situasi ini.