TANGERANG SELATAN — Doa dari ribuan jemaah dinilai menjadi ikhtiar spiritual agar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada Agustus 2026 di Jawa Timur berjalan penuh keberkahan. Harapan ini disampaikan Ketua DPW PKB Banten Ahmad Fauzi di sela kegiatan manaqib rutin bersama kader dan masyarakat di Komplek Leguti, Serpong, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Fauzi, regenerasi kepemimpinan di tubuh NU tidak boleh melenceng dari fondasi yang dibangun para masyayikh. Organisasi ini berdiri di atas ilmu, adab, dan akhlak yang dicontohkan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari serta para pendiri lainnya.
Fauzi menegaskan bahwa para ulama pendahulu tidak pernah menjadikan posisi sebagai tujuan utama berorganisasi. Kepemimpinan justru dimaknai sebagai amanah untuk mengabdi kepada umat, sehingga setiap dinamika diselesaikan dengan kebijaksanaan dan saling menghormati.
"Para pendiri NU selalu mengedepankan adab antarsesama. Mereka tidak haus jabatan ketika terjadi pergantian kepemimpinan. Yang dijaga adalah persaudaraan, musyawarah, dan tanggung jawab menjalankan amanah, bukan saling berebut apalagi saling menjatuhkan," ujarnya.
Politikus asal Banten ini menilai tantangan terbesar NU ke depan bukan sekadar memastikan proses suksesi berjalan mulus. Yang lebih krusial adalah mengembalikan fokus organisasi pada pelayanan kepada masyarakat, baik di bidang pendidikan, dakwah, sosial, maupun pemberdayaan ekonomi.
Ia mengingatkan agar dinamika internal yang belakangan terjadi tidak berlarut-larut dan menyedot energi organisasi. Perbedaan pandangan dianggap hal wajar, tetapi penyelesaiannya harus melalui mekanisme yang menjunjung adab dan penghormatan antarkader.
"NU didirikan oleh para ulama untuk melayani umat. Karena itu, seluruh energi organisasi harus kembali diarahkan pada kerja-kerja pengabdian. Jangan sampai dinamika internal justru membuat pelayanan kepada masyarakat menjadi terhambat," kata Fauzi.
Fauzi mengajak seluruh warga nahdliyin mengawal jalannya Muktamar dengan menjaga suasana tetap sejuk. Keberhasilan acara ini tidak hanya diukur dari siapa yang terpilih menjadi ketua umum, tetapi sejauh mana kepemimpinan baru mampu memperkuat organisasi dan merawat semangat khidmah.
Ia meyakini kepemimpinan yang lahir dari proses berlandaskan nilai-nilai ulama akan menjaga marwah NU sebagai organisasi keagamaan yang punya peran besar dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Tradisi musyawarah dan persaudaraan khas NU harus terus dirawat dalam setiap proses pergantian kepemimpinan.