BANTEN — Saya memakai Nothing Ear (3a) selama kurang lebih satu pekan sebagai pendamping harian, mulai dari perjalanan commuter, meeting online, hingga sesi mendengarkan musik santai di rumah. Fokus utama pengujian adalah kualitas audio, kenyamanan pemakaian jangka panjang, dan tentu saja fitur perekaman yang menjadi nilai jual utamanya. Perlu dicatat, produk ini bukan unit final yang sempurna; ada beberapa kompromi yang harus Anda ketahui sebelum memutuskan membeli.
Ini pengalaman pertama saya memegang produk audio Nothing, dan kesan pertama soal desainnya tidak berlebihan. Case-nya berbentuk kotak transparan yang memperlihatkan earbuds di dalamnya—detail kecil yang bikin produk ini terasa berbeda dari TWS lain yang didominasi warna hitam atau putih polos. Pilihan warna kuning dan pink yang cerah juga menyegarkan, meski opsi hitam tetap tersedia untuk yang lebih konservatif.
Secara ergonomis, earbuds-nya nyaman dan pas di telinga. Ukurannya tidak terlalu besar, dan Nothing menyediakan empat pilihan ukuran ear tips. Selama pemakaian 2-3 jam nonstop, tidak ada rasa perih atau tekanan berlebih di liang telinga. Case-nya sedikit lebih besar dari TWS lain yang pernah saya pakai, tapi perbedaannya tidak signifikan dan tetap muat di kantong celana.
Yang perlu dicatat, desain transparan ini memang menarik perhatian di transportasi umum. Tapi dari sisi praktis, permukaan case yang glossy mudah sekali meninggalkan sidik jari dan baret halus. Anda yang peduli estetika mungkin perlu membeli case pelindung tambahan.
Nothing Ear (3a) menggunakan driver custom 12mm yang menghasilkan suara Hi-Res. Karakter suaranya cenderung V-shape—bass-nya kuat dan bertenaga, cocok untuk genre pop, EDM, dan hip-hop. Vokal tetap terdengar jelas di tengah hentakan bass, dan treble-nya tidak melengking. Untuk TWS di harga Rp 1,6 jutaan, kualitas ini memang di atas rata-rata dan hampir mendekati kelas flagship.
Fitur Static Spatial Audio yang bisa diaktifkan lewat aplikasi Nothing X memberikan efek panggung yang lebih luas. Efeknya memang terdengar, tapi jangan berharap seperti headphone dengan head-tracking sungguhan. Ini lebih ke polesan EQ yang membuat suara terasa lebih "hidup", bukan fitur yang mengubah cara Anda mendengarkan musik secara fundamental.
Sayangnya, saya tidak bisa menguji codec LDAC atau aptX pada unit ini, dan bahan yang saya terima tidak menyebutkan dukungan codec tersebut. Yang jelas, koneksi Bluetooth-nya stabil selama pengujian, tanpa putus saat ponsel berada di saku celana.
Fitur perekaman suara dari earbuds adalah pembeda utama di kelas harga ini. Anda bisa merekam percakapan atau catatan suara langsung dari earbuds tanpa mengeluarkan ponsel. Ini sangat berguna untuk mahasiswa yang merekam kuliah, jurnalis yang wawancara di lapangan, atau siapa pun yang sering dapat ide mendadak di tengah perjalanan.
Kualitas rekamannya cukup jernih untuk percakapan di ruangan tenang. Namun, jangan berharap hasilnya sebagus recorder dedicated atau smartphone flagship. Di lingkungan bising seperti jalan raya, suara angin dan kebisingan sekitar akan ikut terekam. Ini fitur yang cerdas, tapi eksekusinya masih perlu pengujian lebih dalam untuk skenario ekstrem.
Beberapa catatan penting yang saya temukan selama pemakaian:
Kelebihan:
Kekurangan:
Nothing Ear (3a) adalah produk dengan kepribadian kuat. Anda membayar Rp 1,6 jutaan bukan hanya untuk suara bagus, tapi juga untuk desain yang menonjol dan fitur perekaman yang fungsional. TWS ini sangat cocok untuk mahasiswa, kreator konten pemula, atau pekerja yang sering merekam catatan suara dan ingin tampil beda dari pengguna TWS biasa.
Namun, jika prioritas utama Anda adalah peredam bising terbaik atau daya tahan baterai paling lama di kelasnya, ada opsi lain yang lebih mumpuni. Nothing Ear (3a) adalah pilihan yang tepat jika Anda menghargai desain dan fitur unik, dan bersedia berkompromi pada beberapa aspek teknis.