Telkom Tuntaskan Pemisahan InfraCo Tahap 2 Senilai Rp49,9 Triliun, InfraNexia Jadi Mesin Tumbuh Baru

Penulis: Aditya Nugraha  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 11:16:01 WIB
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini meninjau peta infrastruktur digital dalam konferensi pers penyelesaian spin-off InfraCo Tahap 2 di Banten, Senin (10/8/2026).

BANTEN — Langkah korporasi ini bukan sekadar pemindahan aset antar-entitas. Bagi Telkom, spin-off InfraCo Tahap 2 adalah bagian dari strategi besar TLKM 30 yang menargetkan monetisasi aset bernilai tinggi—data center, menara telekomunikasi, dan jaringan fiber optik—agar tidak lagi sekadar menjadi "beban" di neraca, melainkan sumber pendapatan baru yang bisa dikembangkan bersama mitra strategis.

InfraNexia: Dari Unit Bisnis Menuju Perusahaan Mandiri

Sejak tahap pertama rampung pada awal tahun, InfraNexia sudah menunjukkan perbaikan kinerja. Pertumbuhan bisnis tercatat positif, kolaborasi dengan pelanggan eksternal makin luas, dan tata kelola operasional terus dirapikan. Pencapaian itulah yang menjadi pijakan Telkom untuk melanjutkan pemisahan tahap kedua ini.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyebut spin-off ini sebagai tonggak penting percepatan transformasi TelkomGroup. Menurutnya, pemisahan ini membuat pengelolaan infrastruktur digital lebih fokus dan lincah dalam menangkap peluang pasar.

"Spin-Off InfraCo Tahap 2 sebagai langkah strategis dalam perjalanan transformasi TLKM 30 untuk memperkuat InfraNexia sebagai mesin pertumbuhan baru, yang akan meningkatkan kapabilitas layanan infrastruktur, mengoptimalkan efisiensi bisnis, serta membuka peluang kemitraan strategis guna mendukung percepatan konektivitas digital nasional," ujar Dian dalam keterangan resmi, Senin (10/8/2026).

Mengapa Perusahaan Infrastruktur Dipisah?

Logika di balik spin-off ini sederhana: perusahaan yang berdiri sendiri punya fleksibilitas lebih besar dalam pengambilan keputusan dan mencari pendanaan, dibanding jika masih menjadi direktorat di dalam induk usaha raksasa. Dengan struktur baru, InfraNexia bisa lebih agresif menjalin kemitraan strategis—termasuk dengan pemain asing—tanpa harus terbebani birokrasi korporasi Telkom yang besar.

Bagi publik, dampaknya akan terasa dalam jangka menengah. Infrastruktur digital yang dikelola lebih efisien berarti konektivitas nasional bisa dipercepat, terutama di wilayah yang selama ini belum terjangkau jaringan berkualitas. Ini sejalan dengan prioritas pemerintah dalam pemerataan akses digital.

Konteks Lebih Luas: Danantara dan Geliat BUMN

Langkah Telkom ini tidak bisa dilepaskan dari arah kebijakan Danantara Asset Management yang tengah mengonsolidasikan aset-aset BUMN agar lebih produktif. Pemisahan unit bisnis menjadi salah satu pola yang didorong—membuat setiap lini usaha memiliki fokus dan akuntabilitas yang jelas.

Dengan tuntasnya tahap kedua ini, Telkom kini memegang kendali penuh atas InfraNexia sebagai operating company yang siap bersaing di pasar infrastruktur digital yang kian ramai. Pertanyaannya kini: seberapa cepat InfraNexia bisa menarik mitra dan mengonversi aset-asetnya menjadi pendapatan yang terlihat di laporan keuangan konsolidasi Telkom? Publik akan mengawasi pada kuartal-kuartal berikutnya.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top