TANGERANG — Antrean panjang di depan gerbang Perumahan Mustika Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, pada Minggu (9/8) malam bukanlah pemandangan baru. Puluhan pembeli rela menunggu giliran untuk menikmati hidangan di Warung Pecel Lele Bang Miing, tempat yang menyediakan beragam lauk mulai dari lele, nila, bawal, ayam, hingga bebek goreng.
Di tengah keramaian itu, sebuah papan kecil justru menjadi perhatian. Bukan bertuliskan "Harap Antre" atau "Dilarang Merokok", melainkan kalimat bernada religius: "Manfaatkan Waktu Menunggu untuk Berzikir." Pesan tersebut seolah menjadi pengingat di lokasi yang kerap menguji kesabaran.
Menunggu makanan memang ujian kecil. Lima menit terasa seperti sepuluh, terlebih saat aroma ikan goreng telah lebih dulu sampai ke hidung sementara nasi dan lauk belum berpindah tangan.
Bang Miing, pengelola warung, tampaknya memahami psikologi pelanggannya. Daripada waktu menunggu habis untuk memelototi dapur atau menyegarkan layar ponsel, ia mengajak pembeli memanfaatkannya untuk berzikir. Nasihat sederhana ini menjadi semacam terapi kesabaran gratis di tengah budaya serba cepat.
Alasan lain orang rela mengantre barangkali terletak pada sambal. Sambal ijo menjadi menu paling banyak dicari. Warnanya memang hijau, tetapi karakternya tidak sedang mencoba berdamai dengan lidah. Pedasnya datang tanpa banyak perkenalan.
Menu yang ditawarkan pun sederhana: pecel lele sambal ijo, nila sambal ijo, bawal sambal ijo, ati ampela sambal ijo, tahu-tempe sambal ijo, sampai bebek sambal ijo. Lauk boleh berganti, tetapi sambal harus punya pendirian.
Tidak ada panggung hiburan atau pelayan yang berjoget. Yang ada hanya warung di depan gerbang kompleks, lauk gorengan, sambal ijo, nasi, dan antrean. Namun justru dari kesederhanaan itulah warung ini menjadi tujuan.
Orang datang karena lapar, mengantre karena penasaran atau sudah tahu rasanya, lalu pulang dengan perut terisi. Selama beberapa menit menunggu, Bang Miing menyelipkan satu pengingat: tidak semua waktu tunggu harus dihabiskan dengan mengeluh. Sebab di warung pecel lele itu, sambil menunggu ikan matang, manusia juga diminta belajar menunggu. Bedanya, yang satu menghasilkan makan malam, yang satu lagi—semoga—menghasilkan pahala.