BANTEN — Kontribusi investasi sektor hilirisasi naik menjadi 30 persen dari total realisasi investasi nasional pada semester pertama 2026, dari sebelumnya 25 persen dua tahun lalu. Realisasi investasi periode tersebut mencapai Rp 1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Kenaikan porsi hilirisasi itu disampaikan Chief Executive Officer Badan Pengelola Investasi Danantara Rosan Perkasa Roeslani dalam seremoni groundbreaking dan komersialisasi 11 ekosistem hilirisasi nikel serta ekspor perdana baterai kendaraan listrik di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Rosan menyebut realisasi investasi semester pertama 2026 menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja. Angka pertumbuhan 7,2 persen menempatkan capaian semester ini di atas laju periode yang sama tahun lalu.
Lebih dari 75 persen realisasi investasi hilirisasi berada di luar Pulau Jawa. Rosan menilai pergeseran itu menandakan agenda hilirisasi dan industrialisasi mulai mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, termasuk Maluku Utara.
"Lebih dari 75 persen realisasinya di luar Jawa dari hilirisasi," ujarnya.
Dampaknya terlihat di struktur ekonomi Maluku Utara. Sektor industri pengolahan kini menyumbang hampir separuh produk domestik regional bruto provinsi tersebut, sehingga Maluku Utara tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah tambang, melainkan telah berkembang menjadi kawasan industri.
Surplus perdagangan Maluku Utara mencapai Rp 31,1 triliun pada 2025. Pendorongnya adalah ekspor produk olahan nikel, feronikel, nikel matte, mixed sulfide precipitation, nikel sulfat, dan kobalt.
Di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) terdapat 10 proyek strategis dengan total investasi 10,2 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 180 triliun. Sebanyak empat proyek senilai 3,4 miliar dolar AS telah memasuki tahap operasi komersial dan ekspor.
Enam proyek lain senilai 6,8 miliar dolar AS memulai pembangunan. Cakupannya meliputi pengembangan material baterai berbasis nikel dan elektrolit baterai kendaraan listrik, aluminium elektrolit, alat berat listrik untuk pertambangan, serta kaca fotovoltaik.
Keseluruhan proyek diproyeksikan menciptakan lebih dari 10.000 lapangan kerja.
"Dari 10 proyek tersebut mungkin saya tidak sebutkan satu-satu tetapi ini bergerak dari material baterai berbasis nikel, kemudian produksi baterai aluminium elektrolit, alat berat berbasis listrik. Itu yang sudah selesai," kata Rosan.
Porsi hilirisasi yang menanjak dari 25 persen ke 30 persen dalam dua tahun memberi sinyal bahwa insentif dan pembangunan kawasan industri mulai mengubah komposisi arus modal masuk. Bagi investor, sektor pengolahan logam dan komponen baterai kian menjadi tulang punggung realisasi investasi, bukan lagi tambang mentah.
Ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari Weda Bay menjadi penanda bahwa rantai nilai nikel dalam negeri telah masuk ke tahap produk jadi. Pemerintah dan Danantara belum merinci target kontribusi hilirisasi untuk semester kedua 2026.