BANTEN — Departemen Kehakiman AS (DOJ) bersama FBI dan Biro Investigasi Nasional Finlandia menangkap Peter Stokes pada akhir Juni 2026. Tersangka diduga merupakan bagian dari Scattered Spider, kelompok kriminal siber yang disebut telah memeras lebih dari 100 juta dolar AS dari berbagai korban di seluruh dunia.
Stokes kini ditahan dan menunggu persidangan setelah menjalani ekstradisi ke AS. Ia pertama kali hadir di pengadilan federal Chicago pada 30 Juni 2026 dengan dakwaan konspirasi, peretasan, dan penipuan.
Kronologi Serangan ke Toko Perhiasan Mewah
Dakwaan utama terhadap Stokes berasal dari serangan pada Mei 2025 ke sebuah dealer perhiasan mewah di Amerika Serikat. Kelompok peretas menghubungi meja bantuan IT perusahaan menggunakan Google Voice dengan menyamar sebagai karyawan.
Mereka berhasil meyakinkan staf IT untuk mereset kredensial login tiga akun, dua di antaranya memiliki hak akses admin. Dari sana, data penting dicuri dan perusahaan diminta tebusan 8 juta dolar AS dalam bentuk mata uang kripto.
Perusahaan akhirnya bisa memulihkan akses infrastruktur tanpa membayar tebusan. Namun gangguan operasional disebut menyebabkan kerugian sekitar 2 juta dolar AS.
Peran Microsoft GDID dalam Pelacakan
Microsoft menyediakan data GDID—identifikasi unik yang melekat pada setiap instalasi Windows—ke FBI. Data ini memungkinkan penyidik menghubungkan perangkat keras fisik Stokes dengan aktivitas internet dan lokasi spesifik.
Dokumen pengadilan menunjukkan GDID mencatat hampir semua aktivitas Stokes: riwayat web, game, alamat IP, penggunaan alat seperti Ngrok, hingga status Azure—lengkap dengan stempel waktu. Informasi ini diserahkan ke penyidik sebelum jaksa membangun kasus.
GDID sejatinya adalah ID yang diberikan ke setiap perangkat Windows untuk keperluan telemetri. Ini juga yang menyebabkan lisensi Windows bisa dicabut saat pengguna mengganti komponen utama PC.
Pertanyaan Privasi Pengguna Windows
Kasus ini memicu kembali kekhawatiran pengguna teknologi terhadap pengumpulan data Windows yang dianggap berlebihan. GDID tidak bisa dihapus atau dinonaktifkan secara mudah, berbeda dengan pengaturan telemetri lain yang bisa diatur.
Di satu sisi, data ini membantu aparat menangkap pelaku kejahatan siber. Di sisi lain, muncul pertanyaan: bagaimana jika data serupa jatuh ke tangan yang salah?
Identitas Tersangka Sudah Diketahui Sejak 2024
Identitas asli Stokes sebenarnya sudah diketahui pihak berwenang sejak 2024. Namun karena masih di bawah umur dan tinggal di Estonia dan Uni Emirat Arab, ia hanya bisa dipantau tanpa bisa ditahan.
Saat ditangkap, Stokes membawa dua hard drive berisi bukti yang memberatkan. Ia kini menunggu proses hukum lebih lanjut di tahanan federal AS.