TANGERANG — Intan Nurul Hikmah menilai kemampuan teknis saja tidak cukup bagi lulusan SMK yang ingin menembus industri berskala internasional. Menurut dia, komunikasi, kedisiplinan, profesionalisme, dan daya adaptasi sama pentingnya dengan keterampilan kejuruan yang dipelajari di bangku sekolah.
Pernyataan itu disampaikan Intan di hadapan pelajar dalam forum bincang wicara pendidikan vokasi yang digelar di Gedung Amfitheater Heri Sudharmaji PPI Curug, Tangerang. Ia menyoroti sektor penerbangan sebagai contoh bidang yang menuntut penguasaan bahasa Inggris sejak dini.
Bahasa Inggris Jadi Pintu Masuk Karier Penerbangan
Intan menyebut pelajar yang bercita-cita berkarier di dunia penerbangan perlu terus mengasah kemampuan berbahasa Inggris. Keterampilan itu, katanya, menjadi modal awal sebelum masuk ke pelatihan teknis yang lebih spesifik.
"Bagi anak-anak yang ingin berkarier di dunia penerbangan, kemampuan bahasa Inggris harus terus diasah. Selain keterampilan teknis, komunikasi, kedisiplinan, profesionalisme, dan kemampuan beradaptasi juga menjadi modal penting untuk meraih masa depan," ujarnya.
Pesan itu sejalan dengan karakter industri penerbangan yang beroperasi lintas negara. Kru dan tenaga teknis dituntut berkomunikasi dengan standar internasional, sehingga penguasaan bahasa asing menjadi syarat dasar, bukan pelengkap.
Pendidikan Vokasi Dinilai Punya Peran Strategis
Dalam paparannya, Intan menjelaskan pendidikan vokasi memegang peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang terampil, kompeten, dan siap memasuki dunia usaha maupun dunia industri. Lulusan SMK diharapkan bisa langsung terserap tanpa melalui masa pelatihan panjang.
Namun ia mengingatkan kompetensi teknis tidak berdiri sendiri. Tanpa kemampuan komunikasi yang baik dan daya adaptasi terhadap perkembangan zaman, lulusan vokasi berisiko tertinggal dari kebutuhan pasar kerja yang bergerak cepat.
Karena itu, pemerintah daerah meminta peningkatan kualitas SDM melalui penguatan pendidikan dan peningkatan kompetensi generasi muda. Kolaborasi lintas sektoral antara pemerintah, institusi pendidikan, dan dunia industri dinilai menjadi kunci agar kurikulum vokasi tetap relevan.
Sinergi Sekolah dan Industri Jadi Kunci
Intan menegaskan pemerintah daerah terus mendorong sinergi antara dunia pendidikan dan dunia usaha. Menurutnya, kerja sama itu memastikan apa yang diajarkan di sekolah sejalan dengan kebutuhan nyata industri.
"Kami, pemerintah daerah terus mendorong dan memperkuat sinergi dan kolaborasi antara dunia pendidikan dengan dunia usaha, agar pendidikan vokasi benar-benar relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan zaman," katanya.
Pola kemitraan semacam ini lazim ditempuh sejumlah SMK di Banten melalui program praktik kerja industri. Sekolah menggandeng perusahaan sebagai tempat magang, sementara industri ikut memberi masukan soal kompetensi yang dibutuhkan.
Pesan untuk Pelajar: Bangun Karakter Sejak Dini
Di akhir sambutannya, Intan berpesan agar pelajar mengasah keterampilan dan membangun kedisiplinan sejak dini. Menurutnya, kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa dimulai dari kebiasaan kecil yang dibentuk selama sekolah.
"Teruslah belajar, bangun karakter dan kedisiplinan, serta beranilah bermimpi besar. Keberhasilan bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa," kata dia.
Kabupaten Tangerang memiliki sejumlah SMK dengan jurusan yang bersinggungan langsung dengan industri penerbangan dan manufaktur. Posisi wilayahnya yang berdekatan dengan Bandara Soekarno-Hatta dan kawasan industri menjadi nilai tambah bagi lulusan yang siap kerja.