BANTEN — Waduk PLTA Batang Toru berkapasitas 510 megawatt di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mulai digenangi pada triwulan IV 2026 untuk menopang pasokan listrik menjelang Natal dan Tahun Baru. Langkah ini diambil karena cadangan operasional sistem kelistrikan Sumatera hanya tersisa 4 persen, jauh di bawah ambang ideal 15-20 persen.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menargetkan pembangkit beroperasi sebelum lonjakan kebutuhan listrik periode Natal dan Tahun Baru. Penggenangan waduk menjadi tahap krusial sebelum seluruh fasilitas pembangkit diuji, mulai dari powerhouse hingga penyaluran daya ke jaringan transmisi.
Proses penggenangan dilakukan secara dipercepat pada triwulan IV 2026, disertai uji coba seluruh instrumen selama dua pekan. Setelah itu, pembangkit akan diuji masuk ke jaringan PLN sebelum resmi beroperasi.
Mengapa Cadangan Listrik Sumatera Kian Tipis
Kebutuhan listrik di Sumatera bagian utara saat ini masih ditopang pasokan dari Sumatera bagian selatan melalui jaringan transmisi. Kondisi itu membuat sistem kelistrikan rentan ketika beban puncak datang bersamaan dengan lonjakan musiman.
"Cadangan operasional hanya 4 persen. Idealnya kan sekitar 15 sampai 20 persen," ujar Yuliot dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/10/2026).
PLN mencatat pertumbuhan beban Sumatera Utara mencapai 100-120 MW per tahun. Tanpa tambahan pembangkit, cadangan yang sudah tipis berisiko tergerus lebih cepat seiring bertambahnya kebutuhan rumah tangga, industri, dan layanan publik di provinsi berpenduduk terbesar di luar Jawa itu.
510 MW untuk Empat hingga Lima Tahun ke Depan
Tambahan 510 MW dari Batang Toru diproyeksikan mampu menopang kebutuhan listrik Sumatera Utara selama empat sampai lima tahun ke depan. Kapasitas itu menjadi suntikan terbesar bagi sistem kelistrikan Sumatera bagian utara dalam beberapa tahun terakhir.
Penggenangan waduk bukan sekadar mengisi kolam penampung air. Yuliot menjelaskan, tahap ini menjadi syarat mutlak untuk menguji ketinggian genangan sesuai target, kinerja powerhouse, hingga kemampuan penyaluran daya ke jaringan transmisi.
"Jadi, tanpa penggenangan, kita tidak bisa melakukan uji coba atas seluruh fasilitas yang ada di sini," ujar Yuliot.
Jalan Menuju Sertifikat Laik Operasi
Setelah penggenangan rampung dan uji instrumen selesai, Kementerian ESDM akan memastikan seluruh sistem berjalan sesuai standar. Jika lolos, pemerintah akan menerbitkan sertifikat laik operasi sebagai izin resmi pembangkit masuk ke jaringan PLN.
"Dari Kementerian ESDM tinggal memastikan bisa berjalan baik. Kalau sudah berjalan dengan baik, kita akan menerbitkan sertifikat laik operasi," kata Yuliot.
PLTA Batang Toru menjadi salah satu proyek strategis yang diharapkan memperkuat bauran energi terbarukan Indonesia. Berbeda dari pembangkit berbahan bakar fosil, PLTA memanfaatkan aliran sungai sehingga biaya operasionalnya lebih stabil dan emisinya jauh lebih rendah.
Bagi warga Sumatera Utara, kehadiran pembangkit ini berarti pasokan listrik yang lebih andal saat beban puncak, terutama pada malam Natal dan pergantian tahun ketika konsumsi rumah tangga dan industri naik serentak. Pemerintah berharap penggenangan yang dikebut pada triwulan IV 2026 tidak menemui kendala teknis maupun cuaca, sehingga target operasi sebelum akhir tahun bisa terpenuhi.