BANTEN — Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi Infantino, yang sebelumnya mengusulkan pembentukan perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Melalui skema tersebut, FIFA berencana melepas sekitar 20 persen saham kepada investor eksternal demi mengantongi dana segar hingga 4,2 miliar dollar AS atau setara Rp75,6 triliun.
Ancaman Boikot UEFA Jadi Penentu Runtuhnya Negosiasi
Sumber yang mengetahui pembahasan internal menyebut ancaman UEFA menjadi faktor utama kegagalan ini. Seluruh 55 federasi anggota asal Eropa menegaskan tidak akan mengikuti kompetisi FIFA apabila rencana penjualan hak komersial tetap dijalankan.
Tanpa partisipasi tim-tim besar seperti Inggris, Spanyol, Jerman, Italia, dan Perancis, nilai jual Piala Dunia dipastikan merosot drastis. "Tanpa tim-tim besar Eropa, Piala Dunia kehilangan daya tariknya. Penyiar tidak akan membayar mahal dan sponsor akan menarik investasinya," ujar salah satu sumber yang dikutip The New York Post.
Investor Utama Mulai Mundur, JPMorgan Akui Transaksi Batal
Kekuatan penolakan itu akhirnya sampai ke meja investor. Thrive Capital, perusahaan investasi pimpinan Joshua Kushner yang menjadi investor utama, mulai membahas kemungkinan menghentikan keterlibatannya. JPMorgan selaku penasihat keuangan juga tidak lagi memperkirakan transaksi tersebut akan terlaksana.
FIFA sebenarnya telah berusaha keras melobi dengan iming-iming pendanaan besar. Setiap asosiasi anggota yang mendukung proposal dijanjikan akses dana sebesar 40 juta dollar AS atau sekitar Rp720 miliar mulai Januari 2027. Angka itu dua kali lipat dari tawaran awal yang hanya 20 juta dollar AS untuk periode 2027-2030.
Dana Pengembangan Rp180 Triliun Melayang
Skema FFE sendiri dirancang untuk mengelola seluruh hak komersial turnamen FIFA, termasuk hak siar, sponsor, lisensi, hingga penjualan tiket. Dengan valuasi perusahaan mencapai 20 miliar dollar AS (Rp360 triliun), FIFA berharap bisa meningkatkan dana pengembangan global menjadi lebih dari 10 miliar dollar AS (Rp180 triliun) dalam empat tahun ke depan.
"Mereka sudah menguji respons publik dan kini mendapatkan jawaban yang jelas," kata sumber lain mengenai sikap FIFA yang akhirnya memahami besarnya penolakan. Kegagalan ini menandai langkah mundur signifikan bagi Infantino, yang selama ini getol mencari sumber pendanaan baru di luar ekosistem sepak bola tradisional.