BANTEN — Proyeksi tersebut disampaikan Ibrahim di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait pengendalian Selat Hormuz. Konflik yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi global ini dinilai akan mendorong investor global berbondong-bondong mencari aset aman (safe haven), dengan emas sebagai pilihan utama.
Faktor Pendorong di Balik Proyeksi Kenaikan
Ibrahim menjelaskan, potensi kenaikan harga emas juga didukung oleh kemungkinan penurunan harga minyak mentah. Kondisi ini dinilai dapat memicu pergeseran alokasi dana investasi dari instrumen berbasis dolar AS dan komoditas energi menuju emas.
"Kalau kita lihat kalau level USD5.000 per troy ounce tercapai di kuartal ketiga, kemungkinan besar untuk logam mulia pun juga akan di atas Rp3 juta," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (9/8/2026).
Gejolak Timur Tengah dan Dampaknya ke Pasar Global
Ketidakpastian yang bersumber dari potensi konflik di Selat Hormuz menjadi katalis utama yang diawasi ketat pelaku pasar. Selat tersebut merupakan jalur vital bagi sekitar 20% konsumsi minyak global, sehingga gangguan di area itu berisiko memicu gejolak harga energi dan mendorong aksi lindung nilai (hedging) melalui pembelian emas.
Di sisi lain, pelemahan harga minyak yang diproyeksikan terjadi justru menjadi angin segar bagi emas. Logam mulia kerap diposisikan sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Ketika minyak melemah, daya tarik emas sebagai aset pengimbang portofolio tetap terjaga, bahkan meningkat di tengah ketidakpastian makroekonomi global.
Apa Artinya bagi Investor Logam Mulia?
Bagi investor ritel di Indonesia, proyeksi ini membuka peluang akumulasi sebelum tren kenaikan berlanjut. Saat ini, harga jual logam mulia Antam berada di kisaran Rp2,82 juta per gram, level yang masih dianggap rasional oleh sebagian analis jika dibandingkan dengan potensi kenaikan jangka menengah.
Namun, perlu dicermati bahwa pergerakan harga emas sangat volatil dan dipengaruhi oleh sentimen global yang dapat berubah cepat. Keputusan bank sentral utama dunia, terutama The Fed terkait suku bunga, serta data inflasi AS, akan menjadi penentu arah pergerakan emas dalam beberapa pekan ke depan.
Investasi mengandung risiko. Koreksi harga tetap berpeluang terjadi jika tensi geopolitik mereda atau data ekonomi global menunjukkan perbaikan yang signifikan, yang dapat mengalihkan minat investor kembali ke aset berisiko.